politik pencitraan
Politik pencitraan
Entah sejak kapan dan siapa yang pertama kali menggunakan istilah ini. Yang jelas istilah ini sudah begitu akrab di telinga kita, apalagi menjelang kompetisi politis. Politik pencitraan di benak saya adalah sebuah pembungkus atau sebuah kemasan yang tidak jarang menipu. Sebuah snack misalnya jika dikemas dengan kemasan yang menarik, meskipun isinya biasa-biasa saja, akan laku dibeli. Sebaliknya sebuah makanan yang bergizi dan sehat tetapi tidak dikemas dengan baik, maka biasanya tidak akan dilirik orang. Ternyata trik marketing ini berlaku pula dalam politik. Seorang politisi apabila ia ingin dibeli oleh publik, ia harus menampilkan citra yang menarik dan harus pandai berkamuflase.
Pencitraan pada dasarnya adalah sebuah pembohongan karena ingin menampilkan sesuatu yang lain dari kebiasaannya. Seorang politisi yang jarang bahkan tidak pernah berjalan ke pasar-pasar tradisional, tiba-tiba rajin berkunjung dan menyapa para pedagang karena ada suatu event politik adalah salah satu contoh pembohongan publik. Politik pencitraan juga sering kali dimanfaatkan oleh seorang politisi sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari kekurangan-kekurangannya. Walhasil politisi tak ubahnya seorang aktor film bahkan kadang-kadang menjadi bunglon. Namun tentu tidak semua politisi demikian.
Harga sebuah pencitraan pun terhitung mahal. Pada pemilu yang lalu diperkirakan sekitar 8 sampai 10 triliun uang yang dipakai oleh parpol untuk membiayai iklan di media. Sebuah jumlah angka yang cukup fantastis di tengah kondisi bangsa yang terpuruk, di saat kaum pinggiran tidak tahu besok makan apa, dan di saat para pengangguran terpelajar mengetuk pintu perusahaan untuk sebuah pekerjaan.
Pencitraan dalam bahasa agama mungkin dekat dengan term munafik, minimal ciri-ciri nifak tergambar di dalamnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda :
آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان (رواه البجارى)
Artinya: tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia tidak menepati, dan jika diberi amanah dia berkhianat.
Meskipun analogi pencitraan dengan hadis diatas kurang nyambung namun dapat dirasakan aromanya. Yaitu aroma nifak yang begitu tajam dan menusuk namun kadang tidak disadari karena sudah terbuai oleh angin surga yang menyesatkan.
Pencitraan tidak muncul begitu saja tetapi ia lahir dari kondisi di mana publik senang dikibuli, dibohongi dan dininabobokkan; sebuah masyarakat yang tidak kritis karena senangnya makan indomie, dan berpikir instan seperti saya. Tidak jarang pula untuk menepis politik pencitraan ditepis dengan pencitraan lain. Misalnya dengan mengatakan “saya tidak segan mengorbankan popularitas saya demi menyelamatkan bangsa”.
Cara dan tujuan yang ingin diraih dari pencitraan pun bermacam-macam. Berorasi sambil mengutip ayat Alqur’an atau berbicara tentang keteladanan nabi, bertujuan menimbulkan kesan religius. Bergabung dengan para gembel memberi kesan merakyat. Berbicara santun dan pelan mencitrakan orang bijak. Melambaikan tangan sambil menebar senyum pertanda ramah. Bergabung di facebook dan membuat blog juga tidak luput dari pencitraan untuk menepis kesan gatek atau bahkan jadi sarana pencitraan. Yang terakhir ini mungkin seperti saya
Pornografi hukumnya halam
Pornografi hukumnya halam
Kalau kita mencari referensi pornografi (gambar cabul) dalam Al-Qur’an maupun Hadis, pasti kita akan kecewa karena kita tidak akan menemukan materi tesebut. Term yang sering dihubungkan dengan pornografi adalah aurat, padahal antara aurat dan gambar porno jelas tidak sama. Aurat menyangkut mahluk hidup sedangkan gambar adalah benda mati. Permasalahan batas-batas auratpun masih menjadi polemik di antara para ulama. Ini terjadi karena masalah aurat ditarik masuk ke dalam wilayah hukum dan bukannya wilayah kesopanan. Sehingga jangan heran kalau saat ini banyak perempuan yang memakai kerudung tapi hakekatnya telanjang, karena mereka berprinsip yang penting rambut tidak kelihatan.
Yang menjadi masalah dalam pornografi menurut saya bukan pada gambarnya tapi dampak yang ditimbulkan oleh gambar tersebut. Dampak ini bagi setiap orang akan berbeda terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih labil. Kita sudah sering menyaksikan melalui media betapa banyak anak remaja yang melakukan seks bebas setelah menonton gambar atau adegan porno. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang termotivasi untuk menikah setelah menonton adegan tersebut. Ada pula orang yang keinginanannya berhubungan dengan istri baru muncul jika menonton video parno, sehingga untuk kedua kasus ini menurut saya malah dianjurkan. Dengan demikian pornografi disamping dampak negatifnya ternyata ada pula manfaatnya. Yang keharamannya jelas adalah menjadi pelaku pornografi atau menjadi aktor film parno.
Saat ini pornografi hampir mustahil untuk dibendung meskipun pemerintah berusaha sekuat tenaga. Ini adalah konsekwensi dari globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Beberapa waktu yang lalu pemerintah telah memblok beberapa situs parno tapi alih-alih berkurang malah makin menjamur, gugur satu tumbuh seribu. Sehingga hal yang terpenting dilakukan adalah bagaimana membentengi anak-anak dengan iman dan kalau perlu pendidikan seks sejak dini sudah harus diperkenalkan. Pendidikan seks bukan berarti mengajarkan bagaimana cara berhubungan seks akan tetapi pemberian materi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Pemberian materi inipun disesuaikan dengan tingkat kematangan anak. Materi tersebut antara lain adalah penjelasan tentang anatomi dan fungsi alat reproduksi, perkembangan fisik dan mental remaja, definisi seks dan seksualitas, hubungan seks yang sehat, kehamilan dan pencegahannya. Selain itu materinya juga mencakup tentang aborsi dan bahayanya serta penyakit seksual menular seperti HIV/AIDS. Kendala yang mungkin muncul adalah pengetahuan orang tua tentang materi tersebut yang masih terbatas, demikian pula adanya anggapan tabu membicarakan seks. Sehingga mau tidak mau materi tersebut harus diserahkan kepada ahlinya. Kombinasi antara iman dan pendidikan seks ini diharapkan dapat membentengi anak dari pengaruh free seks yang makin marak.
DemoCrazy
DemoCrazy
Ruar biasa! Suatu saat tukang sayur langganan anda tidak lagi berteriak menyapa anda dari luar pagar, tapi anda akan mendapatinya berdiri di atas panggung meneriakkan yel-yel nomor urutnya. Demikian pula tetangga kita ibu parti yang sehari-harinya sibuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah, tiba-tiba balihonya terpampang di sudut jalan menyapa anda. Lain lagi dengan adik kita si pelor yang biasanya mondar mandir membawa surat lamaran kerja, tiba-tiba ikut nyaleg dan menghiasi pohon-pohon pinggir jalan dengan posternya. Politisi dadakan, mungkin itulah istilah yang tepat
Yang namanya mendadak konotasinya biasa jelek dan seringkali dicurigai. Orang yang mendadak kaya dicurigai mendapatkan harta dengan jalan yang tidak halal, orang yang mendadak baik dicurigai ada maunya yang terselubung, orang yang mendadak kawin dicurigai MBA (Married By Accident). Dan yang lebih penting lagi adanya kesan ketidaksiapan. Belum mengerti peta politik dan langsung terjung ke arena sama saja bunuh diri. Banyak di antara mereka yang tidak memperhitungkan tikungan terjal menuju anggota dewan. Yang terbayang hanya gajinya yang menggiurkan, yang terlintas hanya prestisenya sebagai wakil rakyat.
Tentu kita tidak bisa mempersalahkannya, itu adalah hak dia dan itulah demokrasi. Sepertinya rakyat belum waktunya bermewahan dengan demokrasi namun mereka sudah dipaksa untuk melampaui zamannya. Indonesia adalah salah satu dari tiga negara yang demokrasinya diakui dunia disamping India dan Amerika. Sementara tetangga kita Malaysia, Singapura, Brunai nilai demokrasinya masih jauh dibawah Indonesia bahkan Australia sekalipun, namun perhatikanlah kemakmuran rakyatnya. Celakanya capaian demokrasi tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan dari segi materi. Apa artinya demokrasi bernilai tinggi sementara ekonomi terpuruk. Rakyat kecil tidak perlu demokrasi, rakyat hanya butuh makan, rasa aman, pekerjaan dan pendidikan yang murah.
Seseorang di sebuah kampung dengan lugunya berkata “ulah siapa sebenarnya ini semua?”. Dari ungkapannya terbersit kekecewaan dan mungkin juga kebosanan. Bosan mengikuti pemilihan, mulai dari pemilihan Kades, Bupati, Gubernur, Caleg dan terakhir Presiden. Shok melihat mahalnya ongkos sosial dan politik yang harus ditanggung untuk makhluk yang namanya demokrasi. Kita sering menyaksikan pilkada di beberapa tempat yang berakhir rusuh. Tidak jarang pula satu keluarga bertengkar hanya karena beda pilihan. Belum lagi hubungan dengan tetangga menjadi retak karena beda partai. Tak sedikit pula parlemen jalanan yang menimbulkan kekisruhan, anomali dan kontraproduktif.
Saya bukan anti demokrasi apalagi pendukung teokrasi. Namun sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya hardware dan software demokrasi dibenahi terlebih dahulu. Jangan sampai demokrasi diartikan dengan kebebasan tanpa batas. Jangan pula demokrasi hanya bermain di tataran prosedural tapi hakekatnya terabaikan. Lebih cilaka lagi kalau sekiranya demokrasi ini hanya pesanan dari luar.