politik pencitraan

6 June 2009 at 15:45 (Refleksi) (, )

Politik pencitraan

Entah sejak kapan dan siapa yang pertama kali menggunakan istilah ini. Yang jelas istilah ini sudah begitu akrab di telinga kita, apalagi menjelang kompetisi politis. Politik pencitraan di benak saya adalah sebuah pembungkus atau sebuah kemasan yang tidak jarang menipu. Sebuah snack misalnya jika dikemas dengan kemasan yang menarik,  meskipun isinya biasa-biasa saja, akan laku dibeli. Sebaliknya sebuah makanan yang bergizi dan sehat tetapi tidak dikemas dengan baik, maka biasanya tidak akan dilirik orang. Ternyata trik marketing ini berlaku pula dalam politik. Seorang politisi apabila ia ingin dibeli oleh publik, ia harus menampilkan citra yang menarik dan harus pandai berkamuflase.

Pencitraan pada dasarnya adalah sebuah pembohongan karena ingin menampilkan sesuatu yang lain dari kebiasaannya. Seorang politisi yang jarang bahkan tidak pernah berjalan ke pasar-pasar tradisional, tiba-tiba rajin berkunjung dan menyapa para pedagang karena ada suatu event politik adalah salah satu contoh pembohongan publik. Politik pencitraan juga sering kali dimanfaatkan oleh seorang politisi sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari kekurangan-kekurangannya. Walhasil politisi tak ubahnya seorang aktor film bahkan kadang-kadang menjadi bunglon.  Namun tentu tidak semua politisi demikian.

Harga sebuah pencitraan pun terhitung mahal. Pada pemilu yang lalu diperkirakan sekitar 8 sampai 10 triliun uang yang dipakai oleh parpol untuk membiayai iklan di media. Sebuah jumlah angka yang cukup fantastis di tengah kondisi bangsa yang terpuruk, di saat kaum pinggiran tidak tahu besok makan apa, dan di saat para pengangguran terpelajar mengetuk pintu perusahaan untuk sebuah pekerjaan.

Pencitraan dalam bahasa agama mungkin dekat dengan term munafik, minimal ciri-ciri nifak tergambar di dalamnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda :

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان (رواه البجارى)

Artinya: tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara dia berbohong, jika berjanji dia tidak menepati, dan jika diberi amanah dia berkhianat.

Meskipun analogi pencitraan dengan hadis diatas kurang nyambung namun dapat dirasakan aromanya. Yaitu aroma nifak yang begitu tajam dan menusuk namun kadang tidak disadari karena sudah terbuai oleh angin surga yang menyesatkan.

Pencitraan tidak muncul begitu saja tetapi ia lahir dari kondisi di mana publik senang dikibuli, dibohongi dan dininabobokkan; sebuah masyarakat yang tidak kritis karena senangnya makan indomie, dan berpikir instan seperti saya. Tidak jarang pula untuk menepis politik pencitraan ditepis dengan pencitraan lain. Misalnya dengan mengatakan “saya tidak segan mengorbankan popularitas saya demi menyelamatkan bangsa”.

Cara dan tujuan yang ingin diraih dari pencitraan pun bermacam-macam. Berorasi sambil mengutip ayat Alqur’an atau berbicara tentang keteladanan nabi, bertujuan menimbulkan kesan religius. Bergabung dengan para gembel memberi kesan merakyat. Berbicara santun dan pelan mencitrakan orang bijak. Melambaikan tangan sambil menebar senyum pertanda ramah. Bergabung di facebook dan membuat blog juga tidak luput dari pencitraan untuk menepis kesan gatek atau bahkan jadi sarana pencitraan. Yang terakhir ini mungkin seperti saya

Permalink 1 Comment

Pornografi hukumnya halam

17 March 2009 at 22:16 (Refleksi)

Pornografi hukumnya halam

Kalau kita mencari referensi pornografi (gambar cabul) dalam Al-Qur’an maupun Hadis, pasti kita akan kecewa karena kita tidak akan menemukan materi tesebut. Term yang sering dihubungkan dengan pornografi adalah aurat, padahal antara aurat dan gambar porno jelas tidak sama. Aurat menyangkut mahluk hidup sedangkan gambar adalah benda mati. Permasalahan batas-batas auratpun masih menjadi polemik di antara para ulama. Ini terjadi karena masalah aurat ditarik masuk ke dalam wilayah hukum dan bukannya wilayah kesopanan. Sehingga jangan heran kalau saat ini banyak perempuan yang memakai kerudung tapi hakekatnya telanjang, karena mereka berprinsip yang penting rambut tidak kelihatan.

Yang menjadi masalah dalam pornografi menurut saya bukan pada gambarnya tapi dampak yang ditimbulkan oleh gambar tersebut. Dampak ini bagi setiap orang akan berbeda terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih labil. Kita sudah sering menyaksikan melalui media betapa banyak anak remaja yang melakukan seks bebas setelah menonton gambar atau adegan porno. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang termotivasi untuk menikah setelah menonton adegan tersebut. Ada pula orang yang keinginanannya berhubungan dengan istri baru muncul jika menonton video parno, sehingga untuk kedua kasus ini menurut saya malah dianjurkan. Dengan demikian pornografi disamping dampak negatifnya ternyata ada pula manfaatnya. Yang keharamannya jelas adalah menjadi pelaku pornografi atau menjadi aktor film parno.

Saat ini pornografi hampir mustahil untuk dibendung meskipun pemerintah berusaha sekuat tenaga. Ini adalah konsekwensi dari globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Beberapa waktu yang lalu pemerintah telah memblok beberapa situs parno tapi alih-alih berkurang malah makin menjamur, gugur satu tumbuh seribu. Sehingga hal yang terpenting dilakukan adalah bagaimana membentengi anak-anak dengan iman dan kalau perlu pendidikan seks sejak dini sudah harus diperkenalkan. Pendidikan seks bukan berarti mengajarkan bagaimana cara berhubungan seks akan tetapi pemberian materi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Pemberian materi inipun disesuaikan dengan tingkat kematangan anak. Materi tersebut antara lain adalah penjelasan tentang anatomi dan fungsi alat reproduksi, perkembangan fisik dan mental remaja, definisi seks dan seksualitas, hubungan seks yang sehat, kehamilan dan pencegahannya. Selain itu materinya juga mencakup tentang aborsi dan bahayanya serta penyakit seksual menular seperti HIV/AIDS. Kendala yang mungkin muncul adalah pengetahuan orang tua tentang materi tersebut yang masih terbatas, demikian pula adanya anggapan tabu membicarakan seks. Sehingga mau tidak mau materi tersebut harus diserahkan kepada ahlinya. Kombinasi antara iman dan pendidikan seks ini diharapkan dapat membentengi anak dari pengaruh free seks yang makin marak.

Permalink 5 Comments

DemoCrazy

14 March 2009 at 14:19 (Refleksi) (, , , )

DemoCrazy


Ruar biasa! Suatu saat tukang sayur langganan anda tidak lagi berteriak menyapa anda dari luar pagar, tapi anda akan mendapatinya berdiri di atas panggung meneriakkan yel-yel nomor urutnya. Demikian pula tetangga kita ibu parti yang sehari-harinya sibuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah, tiba-tiba balihonya terpampang di sudut jalan menyapa anda. Lain lagi dengan adik kita si pelor yang biasanya mondar mandir membawa surat lamaran kerja, tiba-tiba ikut nyaleg dan menghiasi pohon-pohon pinggir jalan dengan posternya. Politisi dadakan, mungkin itulah istilah yang tepat

Yang namanya mendadak konotasinya biasa jelek dan seringkali dicurigai. Orang yang mendadak kaya dicurigai mendapatkan harta dengan jalan yang tidak halal, orang yang mendadak baik dicurigai ada maunya yang terselubung, orang yang mendadak kawin dicurigai MBA (Married By Accident). Dan yang lebih penting lagi adanya kesan ketidaksiapan. Belum mengerti peta politik dan langsung terjung ke arena sama saja bunuh diri. Banyak di antara mereka yang tidak memperhitungkan tikungan terjal menuju anggota dewan. Yang terbayang hanya gajinya yang menggiurkan, yang terlintas hanya prestisenya sebagai wakil rakyat.

Tentu kita tidak bisa mempersalahkannya, itu adalah hak dia dan itulah demokrasi. Sepertinya rakyat belum waktunya bermewahan dengan demokrasi namun mereka sudah dipaksa untuk melampaui zamannya. Indonesia adalah salah satu dari tiga negara yang demokrasinya diakui dunia disamping India dan Amerika. Sementara tetangga kita Malaysia, Singapura, Brunai nilai demokrasinya masih jauh dibawah Indonesia bahkan Australia sekalipun, namun perhatikanlah kemakmuran rakyatnya. Celakanya capaian demokrasi tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan dari segi materi. Apa artinya demokrasi bernilai tinggi sementara ekonomi terpuruk. Rakyat kecil tidak perlu demokrasi, rakyat hanya butuh makan, rasa aman, pekerjaan dan pendidikan yang murah.

Seseorang di sebuah kampung dengan lugunya berkata “ulah siapa sebenarnya ini semua?”. Dari ungkapannya terbersit kekecewaan dan mungkin juga kebosanan. Bosan mengikuti pemilihan, mulai dari pemilihan Kades, Bupati, Gubernur, Caleg dan terakhir Presiden. Shok melihat mahalnya ongkos sosial dan politik yang harus ditanggung untuk makhluk yang namanya demokrasi. Kita sering  menyaksikan pilkada di beberapa tempat yang berakhir rusuh. Tidak jarang pula satu keluarga bertengkar hanya karena beda pilihan. Belum lagi hubungan dengan tetangga menjadi retak karena beda partai. Tak sedikit pula parlemen jalanan yang menimbulkan kekisruhan, anomali dan kontraproduktif.

Saya bukan anti demokrasi apalagi pendukung teokrasi. Namun sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya hardware dan software demokrasi dibenahi terlebih dahulu. Jangan sampai demokrasi diartikan dengan kebebasan tanpa batas. Jangan pula demokrasi hanya bermain di tataran prosedural tapi hakekatnya terabaikan. Lebih cilaka lagi kalau sekiranya demokrasi ini hanya pesanan dari luar.

Permalink Leave a Comment

Secuil Kehidupan Pesantren

13 March 2009 at 02:04 (Refleksi) (, , )

Secuil Kehidupan Pesantren

Setamat SD aku digiring oleh orang tuaku ke pesantren Muhammdiyah Darul Arqam Gombara. Sebuah sekolah yang terasa asing bagi saya, hidup diasramakan dengan aturan-aturan yang ketat. Sepertinya seluruh tindakan harus diatur, mulai dari bicara sampai bertindak, dari makan, belajar, sampai tidur semua ada aturannya. Sehingga wajar ketika bulan-bulan pertama di pesantren aku dan beberapa teman sering menangis terseduh-seduh secara berjamaah di atas pohon mangga yang berada di depan kampus. Aku membayangkan kehangatan bersama orang-orang terdekat dikampung, aku merindukan mandi di kali bersama teman-teman, aku teringat penggembaraan saya ke hutan mencari buah-buahan, atau ke sawah mencari siput, burung bangau dan burung parkit sambil berkalung ketepel. Tapi apa daya kehidupan itu terampas oleh kehidupan pesantren.

Nafas di pesantren diatur oleh jumlah dentuman lonceng, belum lagi aturan yang ditempel di masing-masing pintu lemari bagian dalam, sehingga setiap kali membuka lemari maka yang pertama kelihatan adalah aturan-aturan. Melanggar aturan tentu ada sanksinya mulai dari yang ringan seperti mengahapal kosa kata bahasa Arab, membersihkan asrama, berenang di lantai, sampai pada hukuman fisik, berupa pukulan dengan sajadah yang dugulung bahkan dengan tamparan dan rambut digunduli. Hidup di pesantren tak ubahnya hidup di barak-barak militer. Namun apakah saya keberatan? Mungkin iya, mungkin juga tidak, karena itulah konsekwensi hidup di pesantren. Saya menjalaninya kadang dengan penuh suka cita bahkan terkadang hukuman itu dianggap sebagai lelucon saja.

Hampir semua kegiatan di kampus dilakukan secara berjamaah, shalat berjamaah, makan berjamaah, tidur berjamaah bahkan sekali-sekali melanggar berjamaah. Waktu makan 3 kali sehari: pagi, siang dan malam. Makan pagi kadang hanya nasi putih dengan kecap yang berlabel ayam panggang, tapi itu tidak mengurangi semangat kami untuk beraktifitas meskipun kadang dongkol. Waktu belajar mulai dari pagi jam 8.00 sampai dhuhur, dan sehabis dhuhur terkadang ada pelajaran tambahan atau kegiatan ekstra seperti pramuka ataupun rutinitas lain seperti mencuci pakaian. Sepanjang waktu dari dhuhur sampai ashar santri tidak diperbolehkan masuk asrama kecuali sekedar mengganti pakaian atau pun karena mendapat giliran bertugas membersihkan asrama. Kemudian waktu sore biasa dipergunakan untuk olah raga. Waktu sore sampai magrib saya dan beberapa teman sering memanfaatkannya dengan berjalan-jalan ke rumah orang kampung yang berada di sekitar kampus. Dalam perjalanan itu kami melewati kampus putri dan sesekali kami melambaikan tangan sebagai tanda persahabahatan kepada santriwati. Jika santriwati itu membalas lambaian tangan kami, maka itu sudah menjadi “berkah” yang luar biasa sampai-sampai jalanpun tidak karuan karena salah tingkah.

Sehabis shalat magrib seluruh santri diwajibkan membaca Al-Qur’an terus dilanjutkan dengan pengarahan dan pelajaran berupa kosa-kata dan ungkapan dalam bahasa Arab dan Inggris yang harus dihapal. Pengarahan dan pelajaran ini dibawakan oleh santri senior yang juga bertindak sebagai pengurus asrama. Rentang waktu antara magrib dan isya ini sering pula dipergunakan oleh pihak keamanan pengurus asrama untuk mengintrogasi siswa yang melakukan pelanggaran ringan. Sementara untuk pelanggaran yang dianggap lebih berat, seperti menggunakan bahasa selain bahasa Arab dan Inggris dalam bercakap ataupun keluar kampus tanpa izin ditangani oleh seksi keamanan OSPM (sejenis pengurus OSIS). Seksi keamanan memanggil “tersangka” melalui corong di mesjid berdasarkan pengintaian maupun laporan dari mata-mata yang sengaja disebar untuk melacak santri yang melakukan pelanggaran. Kemudian ba’da Isya kalau malam jum’at diadakan latihan ceramah disetiap asrama. Selain malam Jum’at para santri dilarang masuk asrama sampai pukul 22.00; semuanya harus belajar entah di teras asrama, di mesjid bahkan di lapangan sambil membawa lampu dan menggelar tikar. Apalagi ketika menjelang ujian lapangan sepak bola kalau malam hari dipenuhi oleh cahaya lampu seperti penjual kacang ketika ada layar tancap di kampung.

Menjelang subuh suara lonceng kembali bergema, kamipun dengan serentak bangun sambil melipat kembali kasur dan menyusunnya ditempat yang telah ditentukan. Selanjutnya kami menuju ke sumur untuk mengambil air wudhu. Karena sumur dalam kampus tidak memadai, kami mencari sumur orang kampung yang berada di sekitar kampus. Di antara santri terkadang ada yang tersesat hingga sampai pagi belum kembali dari sumur, karena melanjutkan tidurnya di kolom rumah penduduk kampung. Terkadang ada pula santri yang kelewat rajin sampai-sampai nyasar langsung ke kelas tapi bukan untuk belajar tapi untuk melanjutkan tidurnya seperti saya. Dan akibatnya sudah bisa diduga, hukuman lagi.

Sehabis shalat subuh biasanya ada ceramah maupun nasehat dari pak kiyai. Para santri mengikuti ceramah pak kiyai dengan khidmat, ada yang serius ada pula yang manggut-manggut karena tertidur. Setelah ceramah selesai, di antara siswa ada belajar di mesjid ada pula yang olahraga, mencuci, mandi dan lain-lain sampai lonceng makan pagi berbunyi. Seterusnya masuk kelas lagi seperti biasa.

Setelah menamatkan jenjang tsanawiyah saya pindah sekolah ke MAN namun hanya sempat bertahan 1 bulan. Sewaktu di MAN aku merasa sangat merdeka tapi aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Aku tetap merindukan suasana pesantren. Akhirnya saya masuk ke MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) yang kebetulan masih membutuhkan satu orang siswa. Pesantren ini adalah salah satu dari 5 pesantren negeri yang didirikan oleh Menteri Agama di Indonesia kala itu. Madrasah ini hanya menerima 40 orang siswa pertahun dan tinggal di bekas asrama haji Daya. Setiap kamar menampung 4 orang santri lengkap dengan fasilitas kamar mandi dan wc. Seperti halnya pesantren yang lain komplit dengan segala aturan-aturan.

Di lokasi bekas asrama haji ini bukan saja berdiri MAPK tetapi juga Tsanawiyah dan Perguruan Tinggi. Namun sekolah-sekolah tersebut masing-masing otonom, cuma kebetulan satu lokasi yang luasnya sekitar 9 hektar. Di pesantren ini kami mulai mendalami kitab kuning. Seharian hanya bergelut dengan kitab, pagi belajar seperti biasa. Ba’da ashar, ba’da magrib, kadang-kadang ba’da isya dan ba’da subuh baca kitab melulu selama satu jam setengah. Di pesantren ini santri tidak dilarang nonton tv maupun denger musik. Hukuman bagi siswa yang melanggar juga bermacam-macam, misalnya jalan jongkok, tamparan, menghapal kosa kata bahasa arab inggris bahkan dikeluarkan dari sekolah kalau pelanggarannya dianggap berat.

Hidup dalam kurungan tidak selamanya jelek bahkan seandainya waktu bisa diputar ulang saya masih memilih sekolah di pesantren ketimbang hidup di “alam liar”. Hidup bebas tanpa aturan bukanlah jaminan kenikmatan. Kepuasan ternyata terasa ketika sesekali menyimpang dari aturan. Kenikmatan ternyata bukan ketika keinginan terwujud dengan mudah. Kebahagiaan terasa kalau sesekali mendapat “musibah”. Suka duka di pesantren ini saya jadikan modal untuk menjalani hidup dengan lapang dada, menghadapi segala kesusahan dengan senyum dan canda, menepis kesedihan dengan merintih di hadapan-Nya, menghalau kegalauan hati dengan bercengakrama dengan-Nya, menumpahkan kerinduan dengan membaca surat cinta-Nya dan bersujud di kaki-Nya.

Pesantren mendidik manusia agar bisa mandiri, tahan banting dan bisa hidup di segala kondisi. Profesi alumni bermacam-macam, ada yang berwiraswasta, ada pula yang menjadi dosen, guru, tentara, pegawai di pemerintahan, aktif di parpol dan lain-lain. Yang ironi justru jarang saya temukan di antara mereka yang menjadi dai atau muballig. Ada kemungkinan karena mereka takut “memperjualbelikan” agama, takut menjadi celebrutus dan kemana-mana menjadi lidah penyambung partai. Penampilannyapun tidak seperti yang dibayangkan orang; jidat hitam, pakai jubah, sorban, jenggot panjang ataupun celana panjang menggantung. Mereka biasa tampil apa adanya. Tidak dipungkiri bahwa ada pula alumni pesantren menjadi liar ketika lepas dari pesantren. Ini sebenarnya ekpresi dan eksperimen sesaat saja, ketika dia menemukan siapa dirinya maka dia akan kembali meniti jalurnya.

Permalink 2 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.