SEKILAS STILISTIKA AL QUR’AN
TINJAUAN SEKILAS STILISTIKA AL QUR’AN
1. Fonologi
Secara sederhana fonologi boleh disebut ilmu bunyi yang fungsional atau bidang linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya
[1]. Fonologi ini memiliki efek terhadap keserasian yaitu keserasian dalam tata bunyi al Qur’an. Keserasian ini berupa harakat (tanda baca, a, i, u), sukun (tanda baca ‘mati’) madd (tanda baca bunyi panjang), gunnah (dengan) sehingga asyik untuk didengar dan diresapkan[2]. Keserasian ini dapat dirasakan ketika kita mendengarkan al Qur’an surah dan ayat mana saja yang dibaca dengan baik dan benar.
Keserasian bunyi pada akhir ayat melebihi keserasian yang dimiliki puisi. Al Qur’an memiliki purwakarti yang beragam, sehingga tidak menjemukan, misalnya surah al Kahfi (18 : 9-16). Pada akhir ayat itu terdapat bunyi vokal “a” namun diiringi oleh konsonan yang bervariasi, sehingga menimbulkan hembusan suara yang berbeda , yaitu antara ba, da, ta, dan ga.
Keserasian bunyi pada akhir ayat dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis:[3]
a. Pengulangan bunyi huruf yang sama. Seperti pengulangan ra dan ha pada surah al Qamar (54 : 33-41), al Insân (76 : 1-13), ‘Abasa (80 : 17-23) dan al Syams (91 : 11-15).
b. Pengulangan bunyi lafal, seperti pengulangan lafal at tarik, kaidah, dakka, saffa, ahad dan ‘aqabah pada surah al Târik (86 : 1-2, 15-16), al Fajr (89 : 21-22, 25-26) dan al Balad (90 : 11-12).
c. Pengulangan bunyi lafal yang berhampiran seperti pengulangan bunyi, tummisat, furijat, nusifat, uqqibat, ujjilat, garqâ, nasytâ, sabhâ, sabqâ, amrâ, râjifah, radifah, wâjifah, khâsiah, hâfirah, suyyirat, ‘uttilat, sujjirat, zuwwijat pada surah al Mursalat (77 : 8-12), an Nâziat (79 : 1, 5, 6, 10) al Takwir (81 : 3-12).
Fonologi ini ternyata memiliki pula aspek terhadap makna, misalnya surah al Nâs yang didominasi huruf desis sehingga terdengar seperti suara bisikan. Ternyata surah al Nâs memang mengisyaratkan agar manusia waspada terhadap bisikan setan.
Huruf sin temasuk jenis konsonan frikatif, manusia tidak bisa mengucapkannya dengan mulut terbuka, namun harus dengan menempelkan gigi atas dan gigi bawah pada ujung lidah. Bunyi ini secara khusus dipilih untuk memberikan kesan bisikan para pelaku kejahatan dan tipuan, sebagaimana dilakukan oleh setan terhadap manusia agar melakukan perbuatan maksiat. Demikian pula huruf sad dan fa, kedua huruf ini termasuk konsonan frikatif dan memiliki karateristik yang mirip dengan sin.[4]
Demikian pula pengulangan huruf ra dan fa dalam surah al Naziat (79) : 6-14. Pengucapan huruf ra dengan pengucapan yang cepat menggambarkan getaran yang timbulkan (dalam konteks ini) bumi dan langit, apalagi ditopang oleh huruf fa dan jim yang didahului vokal panjang, sehingga menggambarkan pengulangan ra yang terus menerus kemudian nafas dan udarapun berhenti tatakala mengucapkan huruf jim lalu dibuka kembali untuk mengucapkan huruf ra.[5]
Keserasian huruf sangat membantu keserasian kata, selanjutnya keserasian kalimat secara keseluruhan. Dalam hal ini irama yang dipantulkan al-Quran terkadang terkesan pelan dan terkadang sedang atau cepat. Irama lambat biasanya berisi pelajaran atau wejangan dan irama cepat biasanya berisikan gambaran siksaan. Perhatikan misalnya surah al Haqqah (69);1-12. Bunyi lafal al-Haqqah dan al-Qariah terkesan lambat. Ayat itu berisi wejangan tentang hari kiamat. Namun pada ayat-ayat selanjutnya yang menerangkan siksaan atas kaum Tsamud dan Ad, iramanya terasa cepat dan menghentak-hentak.[6]
2. Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Mengingat karena sebuah karya cerita adalah dunia dalam kata, komunikasi dilakukan dan ditafsirkan lewat kata-kata, pemilihan kata-kata tersebut tentulah melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memperoleh efek tertentu, efek ketepatan (estetis). Masalah ketepatan itu sendiri secara sederhana dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna, yaitu apakah diksi mampu mendukun tujuan estetis karya yang bersangkutan, mampu menkomunikasikan makna,pesan, dan mampu mengungkapkan gagasan seprti yang dimaksudkan pengarang.[7]
Al Qur’an dalam memilih lafal tidaklah secara serampangan tetapi telah dipertimbangkan sedemikian rupa sehingga menempati posisi yang tepat, sehingga satu kata tidak dapat mengganti posisi kata yang lain. Hal ini untuk menghindari anggapan umun yang mengatakan dalam al Qur’an terdapat taraduf atau sinonim.
Jika ada dua lafal untuk satu makna atau untuk satu benda, niscaya lafal yang satu memiliki kekhususan yang tidak dimiliki lafal lainnya, kalau tidak demikian niscaya lafal yang lainnya itu sia-sia, lafal yang banyak itu hanya merupakan sifat. Misalnya, dikatakan makna batu memiliki 70 lafal, makna singa 500 lafal, makna ular 200 lafal dan makna pedang 50 lafal.[8]
Bintu al Syati telah berusaha membuktikan bahwa taraduf atau sinomin tidak ada dalam al Qur’an. Sebagai contoh lafal ru’ya (رؤيا) dan ahlâm(اخلام) yang sering diartikan sama. Lafal ahlâm ditampilkan dalam al Qur’an tiga dalam bentuk plural, dan didahului lafal adgâs (اضغاث) (membangunkan), sedangkan lafal ru’ya ditampilkan dalam tujuh kali dalam bentuk tunggal dan semuanya dalam kontek mimpi yang benar.[9]
Demikian halnya lafal zauj, (زوج) lafal zauj dalam al Qur’an hanya ditampilkan dalam kontek kehidupan suami istri yang penuh kasih sayang dan memiliki keturunan seperti surah al Rum (30 : 21) dan al Furqân (25 : 74). Sedangkan untuk kehidupan keluarga yang tidak berjalan kasih sayang karena ada khianat atau perbedaan aqidah, diungkapkan dengan lafal Imraah seperti dalam surah Yusuf (12 : 30, 52) al Tahrim (66 : 10-11).[10] Demikian pula lafal-lafal yang lain seperti, halafa(حلف) dan aqsama(اقسم) , al khusyu’ (الخشوع)dan al khasy (الخشي) , al ins (الإنس)dan al insanالإلنسان),(al ni’mah (التعمة)dan al naim (النعيم)dan lain-lain.[11]
Di dalam al-Quran terdapat pula homonim yaitu kata yang bunyinya sama tetapi mengandung arti dan pengertian yang berbeda[12]. Lafal quru (قروء) adalah salah satu homonim dalam al-Quran yang terdapat dalam surat al-Baqarah (2) : 228. Al-Syafi’i mengartikannya suci, sedangkan Abu Hanifah mengartikannya haid. Kedua pihak mengemukakan argumentasi yang kuat. Menurut al -Syafi’i, secara etimologis quru’ artinya menahan. Keadaan suci bagi wanita itu hakekatnya adalah menahan darah, sedangkan haid mengeluarkan darah. Disamping itu lafal quru’ didahului lafal bilangan salasata (feminim) yang mengharuskan kata benda yang dihitungnya berbentuk maskulin yang tiada lain adalah quru’ dalam pengertian tuhrun (طهر) (suci).
Abu Hanifah melihat dari sisi lain Menurutnya maksud disyariatkan-nya iddah untuk mengetahui rahim istri sewaktu diceraikan suaminya dalam keadaan kosong. Untuk mengetahui kondisi seperti itu adlah dengan terjadinya haid bagi wanita yang masih haid.[13]
Pengaruh dari pemahaman homonim ini adalah bahwa wanita yang dicerai suaminyan adalah tiga kali masa suci (al-Syafi’i) atau tiga kali masa haid (Abu Hanifah). Masa yang dikemukakan al-Syafi’i lebih pendek , karena begitu wanita yang dicerai memasuki masa haid yang ketiga iddahnya selesai. Tetapi menurut Abu Hanifah iddah wanita tersebut selesai jika sudah melewati haid ketiga dan memasuki masa suci berikutnya
3. Sintaksis dan Kalimat
Unsur sintaksis yang dimaksud menyaran pada pengertian struktur kalimat. Dalam kegiatan komunikasi bahasa, juga jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna dari pada sekedar kata walau kegayaan kalimat dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh pilihan kata. Sebuah gagasan, pesan dapat diungkapkan ke dalam berbagai bentuk kalimat yang berbeda-beda struktur dan kosa katanya. Dalam kalimat kata-kata berhubungan dan berurutan secara linear.[14]
Ragam kalimat yang digunakan al Qur’an sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesannya, banyak sekali. Pemilihan ragam tersebut juga memiliki efek terhadap makna, misalnya penggunaan kalimat tanpa penyebutan fâil, atau kalimat pasif, misalnya dalam ayat sebagai berikut :
… أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا(10).[15]
Terjemahnya:
Apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang dibumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
Pada ayat tersebut lafal (أُرِيدَ ) dipasifkan sedangkan lafal (أَرَادَ) diaktifkan dengan menyebut pelakunya. Mengapa yang pertama pasif dan yang kedua aktif padahal pelakunya jelas sama. Ini semata-mata sebagai bentuk kesopanan terhadap Tuhan, yang tidak pantas disandarkan keburukan pada-Nya.
Demikian pula ketika al Qur’an menggambarkan hari kiamat yang sering menggunakan bentuk pasif seperti dalam surah al Takwir (81 : 1-4), al An’am (6 : 73) dan al Kahfi (18 : 99). Hal ini dimaksudkan untuk memfokuskan perhatian pembaca pada peristiwa yang terjadi.[16]
[1] Harimukti Kridalaksono, Kamus Linguistik, (Jakarta : PT Gramedia, 1983), h. 45.
[2] Muhammad Abd al Azim az Zarqani, Manahil al Irfan fi Ulum al Qur’an, juz. II, (Kairo : Isa al Babi al Halabi wa Syurakauh, t. tp.), h. 205.
[3] Syihabuddin Qalyubi, Stilitiska al Qur’an, (Yogyakarta : Titian Ilahi Press, 1997), h. 40
[4] Mahmud Ahmad Najlah, Lugat al-Quran fi Juz Amma, (Baerut : Dar al-Nahdat al-Arabiyah,1981.), h. 211.
[5] Ibid. h. 347.
[6] Syihabuddin Qalyubi, Op. Cit., h. 45.
[7] Burhan Nargiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1998), h. 290
[8] Aisyah Abd al Rahman Bint al Syati, al I’jaz al Bayan li al Qur’an, (Kairo : Dâr al Mâarif, t. th.), h. 213.
[9] Ibid.,
[10] Ibid., h. 229.
[11] Ibid., h, 221, 226, 233, 235.
[12] Henri Guntur Tarigan , Pengajaran Semantik, (Bandung : Angkasa, 1986), h.30
[13] Mustafa Said al Khin, Asar al-Ikhtilaf fi al -Qawaid al-Usuliyah fi ikhtilaf al-Fuqaha’,(Kairo:Muassasat al-risalat, 1972), h. 70-74
[14] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., h. 294)
[15] Q. S. Al Jinn, ( 70 : 10)
[16] Aisyah Abd al Rahman Bint al Syati, Op. Cit., h. 242.
Al-Qur’an dan Hermeneutika
Al-Qur’an dan Hermeneutika
Mendengar kata hermeneutika, tak sedikit orang Islam terpelajar yang merasa alergi. Entah karena tidak paham , takut hegemoninya tergeser atau khawatir “jualannya” tidak laku. Read the rest of this entry »
Menghina Nabi
Penghinaan Terhadap Nabi Muhammad saw
Panas, jengkel, dendam dan naik pitam bercampur aduk ketika seorang muslim mendengar bahwa Nabi yang dia muliakan mendapat hujatan, hinaan dan cacian dari orang-orang yang tidak senang dengan Rasulullah saw. Read the rest of this entry »
Dajjal dalam hadis
Dajjal Dalam Perspektif Hadis Maudui
Oleh Muhsin
I. Pendahuluan
Salah satu tanda akhir zaman yang disebutkan oleh Nabi adalah munculnya dajjal. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah riwayat:
konsep surga
KONSEP JANNAH (SURGA) DALAM AL-QURAN
(Kajian Tafsir Bayani)
Oleh: Muhsin
A. Pendahuluan
Surga sebagai ganjaran bagi orang yang berbuat baik kelak di akhirat adalah sebuah persoalan eskatologis atau masalah gaib. Read the rest of this entry »