Secuil Kehidupan Pesantren

13 March 2009 at 02:04 (Refleksi) (, , )

Secuil Kehidupan Pesantren

Setamat SD aku digiring oleh orang tuaku ke pesantren Muhammdiyah Darul Arqam Gombara. Sebuah sekolah yang terasa asing bagi saya, hidup diasramakan dengan aturan-aturan yang ketat. Sepertinya seluruh tindakan harus diatur, mulai dari bicara sampai bertindak, dari makan, belajar, sampai tidur semua ada aturannya. Sehingga wajar ketika bulan-bulan pertama di pesantren aku dan beberapa teman sering menangis terseduh-seduh secara berjamaah di atas pohon mangga yang berada di depan kampus. Aku membayangkan kehangatan bersama orang-orang terdekat dikampung, aku merindukan mandi di kali bersama teman-teman, aku teringat penggembaraan saya ke hutan mencari buah-buahan, atau ke sawah mencari siput, burung bangau dan burung parkit sambil berkalung ketepel. Tapi apa daya kehidupan itu terampas oleh kehidupan pesantren.

Nafas di pesantren diatur oleh jumlah dentuman lonceng, belum lagi aturan yang ditempel di masing-masing pintu lemari bagian dalam, sehingga setiap kali membuka lemari maka yang pertama kelihatan adalah aturan-aturan. Melanggar aturan tentu ada sanksinya mulai dari yang ringan seperti mengahapal kosa kata bahasa Arab, membersihkan asrama, berenang di lantai, sampai pada hukuman fisik, berupa pukulan dengan sajadah yang dugulung bahkan dengan tamparan dan rambut digunduli. Hidup di pesantren tak ubahnya hidup di barak-barak militer. Namun apakah saya keberatan? Mungkin iya, mungkin juga tidak, karena itulah konsekwensi hidup di pesantren. Saya menjalaninya kadang dengan penuh suka cita bahkan terkadang hukuman itu dianggap sebagai lelucon saja.

Hampir semua kegiatan di kampus dilakukan secara berjamaah, shalat berjamaah, makan berjamaah, tidur berjamaah bahkan sekali-sekali melanggar berjamaah. Waktu makan 3 kali sehari: pagi, siang dan malam. Makan pagi kadang hanya nasi putih dengan kecap yang berlabel ayam panggang, tapi itu tidak mengurangi semangat kami untuk beraktifitas meskipun kadang dongkol. Waktu belajar mulai dari pagi jam 8.00 sampai dhuhur, dan sehabis dhuhur terkadang ada pelajaran tambahan atau kegiatan ekstra seperti pramuka ataupun rutinitas lain seperti mencuci pakaian. Sepanjang waktu dari dhuhur sampai ashar santri tidak diperbolehkan masuk asrama kecuali sekedar mengganti pakaian atau pun karena mendapat giliran bertugas membersihkan asrama. Kemudian waktu sore biasa dipergunakan untuk olah raga. Waktu sore sampai magrib saya dan beberapa teman sering memanfaatkannya dengan berjalan-jalan ke rumah orang kampung yang berada di sekitar kampus. Dalam perjalanan itu kami melewati kampus putri dan sesekali kami melambaikan tangan sebagai tanda persahabahatan kepada santriwati. Jika santriwati itu membalas lambaian tangan kami, maka itu sudah menjadi “berkah” yang luar biasa sampai-sampai jalanpun tidak karuan karena salah tingkah.

Sehabis shalat magrib seluruh santri diwajibkan membaca Al-Qur’an terus dilanjutkan dengan pengarahan dan pelajaran berupa kosa-kata dan ungkapan dalam bahasa Arab dan Inggris yang harus dihapal. Pengarahan dan pelajaran ini dibawakan oleh santri senior yang juga bertindak sebagai pengurus asrama. Rentang waktu antara magrib dan isya ini sering pula dipergunakan oleh pihak keamanan pengurus asrama untuk mengintrogasi siswa yang melakukan pelanggaran ringan. Sementara untuk pelanggaran yang dianggap lebih berat, seperti menggunakan bahasa selain bahasa Arab dan Inggris dalam bercakap ataupun keluar kampus tanpa izin ditangani oleh seksi keamanan OSPM (sejenis pengurus OSIS). Seksi keamanan memanggil “tersangka” melalui corong di mesjid berdasarkan pengintaian maupun laporan dari mata-mata yang sengaja disebar untuk melacak santri yang melakukan pelanggaran. Kemudian ba’da Isya kalau malam jum’at diadakan latihan ceramah disetiap asrama. Selain malam Jum’at para santri dilarang masuk asrama sampai pukul 22.00; semuanya harus belajar entah di teras asrama, di mesjid bahkan di lapangan sambil membawa lampu dan menggelar tikar. Apalagi ketika menjelang ujian lapangan sepak bola kalau malam hari dipenuhi oleh cahaya lampu seperti penjual kacang ketika ada layar tancap di kampung.

Menjelang subuh suara lonceng kembali bergema, kamipun dengan serentak bangun sambil melipat kembali kasur dan menyusunnya ditempat yang telah ditentukan. Selanjutnya kami menuju ke sumur untuk mengambil air wudhu. Karena sumur dalam kampus tidak memadai, kami mencari sumur orang kampung yang berada di sekitar kampus. Di antara santri terkadang ada yang tersesat hingga sampai pagi belum kembali dari sumur, karena melanjutkan tidurnya di kolom rumah penduduk kampung. Terkadang ada pula santri yang kelewat rajin sampai-sampai nyasar langsung ke kelas tapi bukan untuk belajar tapi untuk melanjutkan tidurnya seperti saya. Dan akibatnya sudah bisa diduga, hukuman lagi.

Sehabis shalat subuh biasanya ada ceramah maupun nasehat dari pak kiyai. Para santri mengikuti ceramah pak kiyai dengan khidmat, ada yang serius ada pula yang manggut-manggut karena tertidur. Setelah ceramah selesai, di antara siswa ada belajar di mesjid ada pula yang olahraga, mencuci, mandi dan lain-lain sampai lonceng makan pagi berbunyi. Seterusnya masuk kelas lagi seperti biasa.

Setelah menamatkan jenjang tsanawiyah saya pindah sekolah ke MAN namun hanya sempat bertahan 1 bulan. Sewaktu di MAN aku merasa sangat merdeka tapi aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Aku tetap merindukan suasana pesantren. Akhirnya saya masuk ke MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) yang kebetulan masih membutuhkan satu orang siswa. Pesantren ini adalah salah satu dari 5 pesantren negeri yang didirikan oleh Menteri Agama di Indonesia kala itu. Madrasah ini hanya menerima 40 orang siswa pertahun dan tinggal di bekas asrama haji Daya. Setiap kamar menampung 4 orang santri lengkap dengan fasilitas kamar mandi dan wc. Seperti halnya pesantren yang lain komplit dengan segala aturan-aturan.

Di lokasi bekas asrama haji ini bukan saja berdiri MAPK tetapi juga Tsanawiyah dan Perguruan Tinggi. Namun sekolah-sekolah tersebut masing-masing otonom, cuma kebetulan satu lokasi yang luasnya sekitar 9 hektar. Di pesantren ini kami mulai mendalami kitab kuning. Seharian hanya bergelut dengan kitab, pagi belajar seperti biasa. Ba’da ashar, ba’da magrib, kadang-kadang ba’da isya dan ba’da subuh baca kitab melulu selama satu jam setengah. Di pesantren ini santri tidak dilarang nonton tv maupun denger musik. Hukuman bagi siswa yang melanggar juga bermacam-macam, misalnya jalan jongkok, tamparan, menghapal kosa kata bahasa arab inggris bahkan dikeluarkan dari sekolah kalau pelanggarannya dianggap berat.

Hidup dalam kurungan tidak selamanya jelek bahkan seandainya waktu bisa diputar ulang saya masih memilih sekolah di pesantren ketimbang hidup di “alam liar”. Hidup bebas tanpa aturan bukanlah jaminan kenikmatan. Kepuasan ternyata terasa ketika sesekali menyimpang dari aturan. Kenikmatan ternyata bukan ketika keinginan terwujud dengan mudah. Kebahagiaan terasa kalau sesekali mendapat “musibah”. Suka duka di pesantren ini saya jadikan modal untuk menjalani hidup dengan lapang dada, menghadapi segala kesusahan dengan senyum dan canda, menepis kesedihan dengan merintih di hadapan-Nya, menghalau kegalauan hati dengan bercengakrama dengan-Nya, menumpahkan kerinduan dengan membaca surat cinta-Nya dan bersujud di kaki-Nya.

Pesantren mendidik manusia agar bisa mandiri, tahan banting dan bisa hidup di segala kondisi. Profesi alumni bermacam-macam, ada yang berwiraswasta, ada pula yang menjadi dosen, guru, tentara, pegawai di pemerintahan, aktif di parpol dan lain-lain. Yang ironi justru jarang saya temukan di antara mereka yang menjadi dai atau muballig. Ada kemungkinan karena mereka takut “memperjualbelikan” agama, takut menjadi celebrutus dan kemana-mana menjadi lidah penyambung partai. Penampilannyapun tidak seperti yang dibayangkan orang; jidat hitam, pakai jubah, sorban, jenggot panjang ataupun celana panjang menggantung. Mereka biasa tampil apa adanya. Tidak dipungkiri bahwa ada pula alumni pesantren menjadi liar ketika lepas dari pesantren. Ini sebenarnya ekpresi dan eksperimen sesaat saja, ketika dia menemukan siapa dirinya maka dia akan kembali meniti jalurnya.

Permalink 2 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.