STILISTIKA
STILISTIKA (علم الأسلوب)*
Stilistika atau dalam bahasa Arab dikenal dengan ilm al-uslūb berasal dari kata stile. Kata stile diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian mempergunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka stile lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau menggunakan kata-kata secara indah.[1]
Menurut Panusi Sudjiman Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra[2]. Meskipun demikian, menurut Chapman, kajian stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa, jadi tidak terbatas pada sastra saja.[3]
Analisis stilistika biasanya dimaksudkan menerangkan sesuatu yang pada umumnya dalam dunia kesusastraan untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya.[4] Disamping itu, ia dapat juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang dipergunakan itu memperlihatkan penyimpangan, dan bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus.[5]
Analisis stilistika dianggap sebagai pendekatan yang relatif baru dalam kesusastraan. Tetapi sebenarnya benih-benihnya sudah ada sejak zaman Plato (427-347 SM.) dan Aristoteles (384-322 SM.). Cikal bakal itu semacam kajian lingusitik tentang proses kreatif dalam kesusastraan. Zaman Plato dan Aristoteles mungkin terlalu jauh dari zaman kita. Pada tahun 1916 telah terbit sebuah buku hasil kerjasama sastrawan dan ahli bahasa beraliran formalisme Rusia : Studies in Theory Poetic Language. Ini disusul oleh tulisan Roman Jakobson. Pada tahun 1923 tentang puisi Ceko yang menerapkan teori semantik modern dalam pengkajian struktur dan pada metrik puisi. Setelah itu makin banyak pakar yang menulis tentang hubungan yang erat antara kesusastraan dan linguistik.[6]
Sejak Chomsky merintis pandangan baru dalam linguistik dengan penerbitan bukunya, Syntactic Structure pada tahun 1957,[7] pengkajian kesusastraan merasakan dampak angin baru itu. Jika semula sastrawan dan kritikus sastra menyangsikan manfaat pendekatan-pendekatan linguistik terhadap karya sastra, bahkan beranggapan bahwa pengkajian semacam itu akan merusak keindahan seni karya itu, makin lama makin disadari bahwa pendekatan linguistik merupakan salah satu pengkajian atau pendekatan yang dapat ditempuh untuk merebut makna karya.[8] Analisis stilistika berusaha mengganti subyektifitas dan impresionisme yang digunakan oleh kritikus sastra sebagai pedoman dalam mengkaji karya sastra dengan suatu pengkajian yang relatif lebih obyektif dan ilmiah.[9]
Berikut ini dikemukakan beberapa konsepsi dan kriteria pendekatan :
1. Pendekatan stilistika beranggapan bahwa kemampuan mengeskploitasi bahasa dalam segala dimensi merupakan suatu puncak kreatifitas yang dimulai sebagai bakat. Oleh sebab itu, penghargaan paling tinggi diberikan kepada penulis yang mempunyai kemampuan menggunakan bahasa dengan gaya yang meminta dan memukau. Aplikasi dari pendekatan tidak hanya tertuju pada analisis pemahaman gaya bahasa yang indah dan menarik, tetapi juga terhadap keterhandalan penulis dalam mengespresikan gagasan lewat bahasa secara kreatif.[10]
2. Walaupun tekanan diletakkan pada analisis pemakaian bahasa dan aspek pembahasannya dalam karya sastra, namun juga dilakukan analisis keseluruhan karya terutama menyangkut tema, pemikiran dan aspek makna yang mempunyai sangkut paut langsung dengan pemakaian bahasa.
3. Analisis kebahasaan melalui pendekatan ini berbeda dengan analisis kebahasaan dengan mempergunakan pendekatan struktural. Di dalam pendekatan stilistika, kajian bahasa harus lebih mendalam sampai kepada menggunakan bahasa simbolik, kemampuan pemilihan kata hingga penemuan berbagai kemungkinan penafsiran.[11]
4. Analisis ditujukan pada ke arah membuka tabir kekaburan yang sering dijumpai pada karya-karya absurd, abstrak dan karya eksperimental yang lain. Dengan begitu pendekatan ini dapat mendatangkan manfaat yang lebih besar untuk membantu pembaca dalam menemukan interpretasi yang lebih tepat.[12]
5. Analisis ditujukan pula pada corak penulisan yang bersifat individual, yang bersifat khas bagi pengarang gaya yang hanya mewakili dirinya. Mekanisme dan teknik penulisan bisa sama bagi banyak pengarang, tetapi corak yang merupakan nafas penjiwaan yang diberikan penulis disebabkan kekhasannya dalam pemakaian bahasa berbeda antara satu pengarang dengan pengarang yang lain. Setiap penulis yang telah mapan tentu mempunyai gaya penulisan sendiri. Justru pada gayanya inilah yang membedakan penulis yang satu dengan yang lain, sebab kalau dilihat pada tema, lumrah sekali terjadi kesamaan antara satu karya sastra dengan karya sastra lain. Tentu saja bagi setiap pengarang berbeda mengenai bakat gaya yang dimilikinya, ada yang telah kuat, ada yang baru menemukan bentuk, ada yang masih lemah dan ada yang masih mencari-cari gaya yang lebih serasi.[13]
6. Analisis gaya kepengarangan tidak hanya menyangkut gaya perorangan pengarang, tetapi juga dapat dilakukan analisis terhadap gaya kelompok pengarang, gaya umum yang berlaku pada suatu periode tertentu. Analisis gaya kepengarangan ini dapat pula menyangkut perubahan gaya yang terjadi pada diri seseorang sastrawan yang disebabkan oleh adanya proses pematangan diri atau disebabkan terjadinya perubahan aliran dan falsafah yang dianut, atau disebabkan oleh alasan-alasan lain yang perlu ditemukan oleh peneliti.[14]
7. Analisis kebahasaan diarahkan juga pada masalah pemakaian kata dalam kalimat, kalimat dalam paragraf, paragraf dalam wacana, serta bagaimana semuanya itu dijalani penulis sehingga menjadikan hanya sebagai sesuatu yang menggugah dan memikat.[15]
8. Tidak dapat dihindari pula analisis mengenai pemakaian ragam bahasa, dialek atau laras bahasa walaupun hal ini lebih terkait dengan masalah sosiolinguistik, namun dalam analisis stilistika hal itu tidak dapat dikesampingkan, bahkan dapat dikatakan perlu karena dalam berbagai faktor diatas antar tokoh terjadi pemakaian berbagai variasi bahasa.[16]
9. Analisis kebahasaan dikaitkan pula dengan analisis perwatakan, sebab bagaimanapun bahasa yang digunakan tokoh akan menggambarkan watak, kepribadian, cara berfikir dan falsafah hidupnya. Bisa terjadi seorang pengarang lupa memperlihatkan hubungan watak tokoh dengan bahasa yang digunakan saling kelihatan kontradiktif. Dalam analisis kebahasaan ini dapat pula ditelaah dan akhirnya diketahui hubungan antara watak penulis dengan gaya bahasa yang digunakan penulis yang melankolis akan memperlihatkan bahasa yang beralam, penulis yang berprilaku tegas dan lugas akan terlihat pula pada bahasanya yang senang menggunakan kalimat-kalimat pendek.[17]
10. Keterhandalan penulis memilih kata yang tepat dan menggugah merupakan segi yang harus dianalisis, keberhasilan seorang penulis tidak hanya tergantung kepada kecemerlangannya menemukan gagasan, tetapi lebih dari itu, ditemukan pula oleh kemampuannya melakukan pilihan kata.[18]
11. Semua tekhnik untuk membuat penekanan dan kejelasan dapat dimasukkan dalam wilayah stilistika, tekhnik-tekhnik ini misalnya adalah metafora yang ada di semua bahasa.[19]
12. Ciri-ciri atau tanda-tanda stilistika yang perlu diidentifikasi dapat bersifat fonologis (pola bunyi bahasa, matra, rima) sintaksis (tipe struktur kalimat) leksikal (diksi, frekwensi pengunanan kelas kata tertentu), atau retoris (majazi, citraan).[20]
13. Suatu penyimpangan linguistik tidak terjadi secara acak dalam suatu karya dan tidak berdiri sendiri, tetapi berpola dengan gejala linguistik yang lain membentuk suatu keutuhan. Karena itu, penyimpangan tersebut tidak dapat difahami secara terpisah. Hanya dalam hubungannya dengan sitem bahasa yang bersangkutan. Penyimpangan itu harus dilihat dalam konteks tempat sampulnya. Dalam hubungan itu harus dingat pula bahwa objek pengkajian stilistika bukannya gejala demi gejala, melainkan berpolanya gejala-gejala itu dalam karya sastra sebagai suatu keutuhan.[21]
Bagaimanapun juga, gagasan gaya sebagai penyimpangan selalu kembali ke pandangan yang lebih luas, yaitu bahwasanya adalah pilihan, termasuk pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan struktur yang menyimpang. Hal ini mengantar kita ke pembicaraan tentang licentia poetica.
Yang dimaksud dengan licentia poetica adalah kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk dan aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki. Derajat dan macam kebebasan yang di bolehkan bevariasi menurut konvensi zaman. Bagaimanapun, pembenaran menggunakan kebebasan itu tergantung pada keberhasilan efeknya.[22]
Penyimpangan itu sering kali disebut defamiliarisasi atau deotomatisasi ; yang biasa, yang normal, yang otomat dibuang, yang dipakai harus khas, aneh menyimpang dan luar biasa. Seniman sedunia telah menemui dan insaf akan efek baik dari kejutan, si pembaca sastra harus dan ingin dikejutkan. Pada segala lapisan dan aspek sistem sastra dan sistem bahasa tersedia atau disediakan alat untuk menghasilkan efek itu.[23]
Dengan demikian terdapat dua prinsip universal utama yang berfungsi dalam kode bahasa sastra yaitu:
1. Prinsip ekuivalensi atau kesepadanan (الإتفاق)
2. Pinsip deviasi atau penyimpangan (الإنحراف)
* Istilah Style sengaja tidak diindonesiakan menjadi gaya bahasa, melainkan hanya dimodifikasi menjadi ‘stile’. Hal ini sengaja dilakukan karena sejalan dan untuk menjaga konsistensi pengindonesiaan istilah Stylistic yang juga hanya dimodifikasi menjadi ‘Stilistika’ dan bukan ‘kajian tentang gaya bahasa’. Jadi pengindonesiaan style menjadi ‘stile’ identik dengan pengindonesiaan stylistic menjadi ‘Stilistika’ yang telah diterima dimasyarakat.
[1] Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 122.
[2] Panusi Sudjiman, Kamus Istilah Sastra, (Jakarta : UI Press, 1990), h. 75.
[3] Raymond Chapman, Structural and Literature, An Introduction to Literary Stylistic, (London : Edward Arnold, 1993), h. 13.
[4] Rene Wellek dan Anstin Waren, Teori Kesusastraan, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 226.
[5] Burhan Nargiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1998), h. 279.
[6] Lihat Panusi Sudjiman, Bungai Rampai Stilistika, (Jakarta : Pustaka Utama Grafitti, 1993), h. 5.
[7] Lebih lanjut lihat, R. H. Robins, Linguistik Umum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta : Kanisius, 1992), h. 346-347.
[8] Panusi Sudjiman, loc. cit.
[9] Burhan Nargayantoro, Op. Cit., h. 280.
[10] M. Atar Semi, Metode Penelitian Sastra, (Bandung : Angkasa, 1993), h. 82.
[11] Lihat Nurgiyantoro, Op. Cit., h. 277.
[12] Panusi Sudjiman, Op. Cit., h. 14.
[13] Ibid., lihat pula, Panusi Sudjiman, Op. Cit., h. 14
[14] Ibid.,
[15] Ibid., h. 4.
[16] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., h. 312.
[17] M. Atar Semi, Op. Cit., h. 83.
[18] Panusi Sudjiman, Op. Cit., h. 11 dan 22.
[19] Rene Wellwk dan Austin, Op. Cit., h. 223.
[20] Panusi Sudjiman, Op. Cit., h. 14.
[21] Ibid., h. 18
[22] Ibid.
[ 23] A. Teew, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Umum, 1991), h. 4
ardi said,
18 May 2010 at 07:58
thanks banget ya infonya…
prima leoni said,
14 September 2011 at 23:52
wow…
ane butuh banget rincian tentang stilistika, thanks yawh